fish

Sunday, February 7, 2016

Mereklamekan Pelem

Saturday night di plasa festival with oxalis and fajar

Thursday, August 9, 2012

Pertemuan


Dunia seperti berhenti berputar dan sang penguasa alam seakan tidak memberi restu akan pertemuan ini dengan menambahkan efek dramatis seperti film kartun jepang; serta merta daun-daun kering berguguran disekelilingku. Duh Gusti ono opo iki. Tanganku mencengkram erat botol pere ocean dan memohon segenap kekuatan untuk menyokong kakiku agar tetap berdiri tegak. Setelah sekian lama kami berpisah dan kini dipertemukan kembali ditengah Raffles Square menuju esplanade pada sabtu sore dengan kondisi berkemeja rapi namun tubuh belum tersentuh air dan mulut beraroma naga, singkatnya hari itu aku tampil serupa gembel walau wangi seperti diguyur selusin parfum. 



Sungguh dia sangat cantik, dengan gaun terusan kotak-kotak besar berwarna biru terkesan santai. Mereka datang menghampiriku pelan seperti yin yang, dia tersenyum dan kau cemas dengan sebaris lipatan pada dahimu.  Itukah istrimu sang wanita yang kau pilih untuk menggantikan aku? 



“Hi you must be Ellen, I’m Djohan” sapaku untuk memulai pembicaraan seraya menyodorkan sebentuk jabat tangan yang terpaksa. 



“Honey, this is Mr. Kraisler, we used to work together” ucapnya memperkenalkan aku kepada istrinya. Ketegangan begitu terasa diudara seakan bisa diukur dengan skala richter. Tapi aku tertawa, menertawakan kegelisahannya yang tak beralasan, menertawakan sikapnya yang dingin dan cara dia menggunakan nama keluargaku agar terkesan formal. 


“Faites vous me manquez?” ucapnya hampir berbisik dengan nada berhati-hati. “Non!” jawabku singkat.
 

“Well its been a pleasure meeting you again Mr. Poole, Ellen, but I have to go” pamitku kepada mereka berdua sambil menyumbangkan sebuah senyum imitasi dan menyeimbangkan formalitas absurd. Tak perlu kau gunakan bahasa alien untuk menutupi sesuatu yang telah berlalu karena aku bukan rahasia, yang kita lakukan bukanlah perselingkuhan, karena aku hadir sebelum cincin di jari manismu tapi kau memilih menutupinya seakan barang kotor yang tak akan bersih walau dicuci dengan kekuatan 10 tangan. Aku maklumi, Istri mana yang tak berang bila tahu penis suaminya pernah berlabuh dipantat orang.

Kami berpisah, atau lebih tepatnya memisahkan diri. Hilang sudah semangat 45 untuk menonton Giselle yang sudah datang jauh dari belahan bumi lain walau hari ini adalah hari terakhir pertunjukkannya.  Aku berbelok ke Queen Elizabeth walk yang didominasi oleh ibu-ibu dengan kereta bayinya, menikmati tarian tupai yang berlarian bebas dari pohon ke pohon dan beberapa ekor gagak mengeluarkan suara menyeramkan diatas pohon saga yang bunyinya mengingatkan aku akan malam kematian. 


Di air mancur Tan Kim Seng aku berteduh, kembali mengingat semua yang berawal dari sebuah perayaan tahun baru diatas sebuah gedung, kami berciuman diakhir countdown berlatar puluhan orang meniup terompet dan sobekan kertas warna-warni menghiasi udara.


“Andrew, did you just kiss me?” Tanyaku dengan nada girang seperti gadis belia,


“Yeah I know, its must’ve been the alcohol kicking in” ucapnya diikuti untaian alasan.


Malam itu Kami tertawa, kami gembira, lalu kami bercinta dan hampir setahun sesudahnya berakhir dengan aku menangis. Andrew mengakhiri sepihak, yang katanya hubungan ini aneh dan tidak rasional serta segala sumpah serapah dan bilur biru di pundak kananku. Kalimat I’m not a f**king faggot masih terasa di kuping, terasa panas dan kebas. Ruang tamuku berantakan dan bantal-bantal di sofa sudah pindah entah kemana,
“You make me crazy, got my mind all messed up” ucapnya seraya membanting pintu.


Seperti inikah rasanya bila mental seseorang diperkosa? Perpisahan memang menyakitkan tapi dengan memporakporandai rumah seseorang adalah berlebihan walau dengan kalimat I met someone else menurutku sudah cukup.


Sore hari pada saat waktu bergeser dari terang menuju gelap, sebuah pesan singkat menghampiriku menginterupsi seorang ibu berambut pirang yang sedang menjelaskan bahwa Januari masih dingin di negara asalnya, si ibu terdiam memberiku kesempatan untuk membaca isi pesan tersebut . Nama Andrew Poole muncul dilayar, rupanya dia belum menghapus nomerku, dan entah karena alasan apa belum juga kuhapus nomernya.


“I’m not happy with my marriage” satu kalimat singkat.


Tak kubalas, tak kugubris, aku lebih memilih membantu si ibu mendorong kereta bayinya ke arah seafront, mobilnya diparkir disana begitu katanya dan segudang kalimat tak penting lain yang aku konsumsi dengan baik hanya untuk mengalihkan pikiranku. Lalu pesan singkat yang kedua pun datang.


Sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya aku mengintip di layar, setiap beberapa menit, seakan memiliki ritme aku membacanya. Ada perasaan tenang, tak lagi amarah. Tak ada cinta namun juga tak ada benci, hatiku berhenti disebuah kehampaan. D a m a i. Mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan, mungkin memang sengaja memberi pelajaran, agar aku belajar memaafkan.


Pesan singkat yang kedua “I miss you!” begitu katanya…

Tuesday, November 29, 2011

Jogja dan Idul adha

Dengan kedua orang tuaku, kami mengungsi dari perayaan idul adha di Jakarta yang rumah kami acapkali digunakan sebagai dapur umum, menyisakan rumah yang kotor dapur yang berantakan dan setiap senti lantai penuh dengan aroma kambing.


Bersama dengan kegelapan menyelimuti kota Jogja aku tiba dengan selamat :) setiap sudut masih sama menyambutku dengan hangat sama seperti kali lain aku datang berkunjung ke kota kelahiran ibuku. mungkin berbeda kali ini, ribuan laron ikut menyambutku, kepakkan sayap mungil di kegelapan malam dengan satu dua hinggap di rambut menjadikan kepalaku sebagai ladang bercinta.


Malam itu aku diperkenalkan dengan kuliner yang baru kurasakan di lidahku, peyek laron atau yang aku suka menyebutnya dengan peyek betina ranum. Kami menggorengnya dalam penggorengan tanpa minyak hingga kakinya mengkerut dan sayapnya terlepas lalu perutnya mengering setelahnya dimasukan kedalam adonan terigu. Kuakkui ini bukanlah makanan yang enak, aku perlu mengumpulkan mental untuk memasukkannya kedalam mulut dan rasanya pun sama, sama seperti peyek pada umumnya.

 Belum ada perabotan disana, dirumah mungil yang ayah buat sebagai tempat dia menghabiskan masa pensiunnya jauh dari keramaian. Hanya ada water dispenser, berbagai peralatan dapur dan berhelaihelai tikar selimut dan bantal. Dingin pun tak jadi masalah karena lantainya menggunakan kayu yang membuatnya nyaman untuk ditiduri. Pesta sex semalam suntuk masih tersisa hingga pagi, ribuan tubuh tergeletak kelelahan setelah mengeksplorasi kenikmatan bereproduksi. Sayap rapuhnya tersusun rapi dalam gundukan kecil disana sini.


Inilah kali pertama aku merayakan hari raya kurban di kampung halamanku, udara masih sejuk tanpa ada banyak kendaraan lalu lalang dan pagi itu semua lakilaki sudah berkumpul di masjid. Sebagian orang tua masih berdiri disebelah sapinya, banggakah bahwa tahun ini berkurban, pamerkah sehingga berdiri di samping sapinya agar tetangga melihat, ataukah hanya ingin pamit berpisah, aku tak tau.

Satu hal yang aku pelajari bahwa hewan pun begitu menghargai kehidupan, seperti kambing putih di ujung sana yang dalam sepuluh menit lagi akan meregang nyawa tapi dia masih sempat mengajak seekor betina bercinta. Dicium pipinya lalu disundul pantatnya dan bersiap menaiki tubuhnya namun dicegah oleh seorang bapak berpeci dengan batik coklat. Tubuhnya bergetar hebat saat belati itu membuat sayatan besar pada lehernya, dan ekornya bergerak cepat menahan sakit.

Lain halnya dengan sapi yang tidak menunjukkan gejolak nafsu, dia hanya berteriak pelan sebelum menuju parit kecil untuk menampung darah, ketakutan setengah mati hingga kotorannya keluar bahkan sebelum besi tajam itu menyentuh kulitnya, aku jadi teringat perkataan seorang teman, ‘he shit himself’ LoL

Begitu banyak foto yang ingin kubagi namun enggan menunjukkan sesuatu yang begitu menjijikkan. Darah, tubuhtubuh tanpa kepala, dan unmentionable lainnya, tapi satu foto ini membuat saya tergelitik untuk memajangnya. Yes baby this is his cock.


Everybody says bullshit, why not bullcock? oh wait, cowcock :p

Saturday, October 15, 2011

Mencoba menipu diri



Kepada jang terhormat

Ny Abendanon,

Lelaki itoe datang lagi hari ini, berdiri tegap gagah nan ksatria.
Ayah memanggilkoe oentoek hadir di pendopo roemah.
Inikah lelaki jang menhantjurkan sebagian rumahkoe, inikah lakilaki jang begitoe dibenci keluargakoe.
Dari semoea bisikan kerabat bahwa dia manoesia jang bengis tapi mengapa terlihat begitoe mempesona dimatakoe, goempalan otot lengannja dan dadanja bidang tanpa penoetoep menandakan kejantanan, percintaan liar pada malam pertama.

Nyonya Abendanon jang terkasih, ingin rasanja aku berkata iya saat dia melamarkoe tapi tatapan tajam keluargakoe memaksakoe oentoek berkata lain, akoe menjesal karena memaksanja memboeat seriboe candi dalam satoe malam. Soenggoeh aku berharap dia mampoe membuatnja.

Penoeh kasih,

Loro jonggrang.

Friday, October 14, 2011

Lelah bercinta



Detik berhenti berdetak,
Bibir hangat berdesir,
Kalian yang melebur menjadi satu,
Terpaut cinta dalam duniamu,
Mengenyahkan dunia nyata yang seakan buta,
Atau mulai menjadi gila
Basahkah kasur itu dengan peluh
Bulir percintaan kalian tadi malam
Dua tubuh lelah rebah runtuh
Penetrasi dalam percintaan liar mencekam

Tuesday, September 27, 2011

Stay strong




Saat saya menulis ini,
Saya lelah,
Rasanya ingin mati saja.
Inikah yg disebut dengan hidup?
Penuh perjuangan.
Ingin rasanya saya ngobrol bersama takdir, Sambil ngupil lalu meludah ke arah langit.
Tapi saya belum mau mati.

Monday, September 26, 2011

Kemarin Sekarang Besok


Kemarin
Langit malam kota Jakarta yang temaram dengan lampu jalan yang berpendar terang disisipi bayangan gelap dari pohon lebat di tepi jalan. Dengan motor vespa aku mengarungi malam, terduduk dibelakang dan berpegangan erat pada sebuah perut ramping milik teman seorang paman yang tinggal bersama kami beberapa bulan. Seperti malam lalu yang sudah, dia datang dengan seragam hijau loreng beraroma debu lembab basah. Dia tak datang untukku namun selalu menyudahi malam dengan mengajakku jalanjalan. Kususuri tangan mungilku pada dunia yang belum pernah kujamah, dadanya dan ya, bahkan pahanya. Sesampainya dirumah ibu bertanya melakukan apa saja, aku tak bersuara, aku tak pernah cerita.
 ***

Sekarang
I see the sparkle bright light of morning, orange blue and white from my window. With a cup of coffee in my hand and a forced smile on my wrinkle face. A lot of things happened in my life recently which made me realize how small and fragile we are as a human being. Where will I be in the next ten year, will I be rich, will I be settled down and come home to a nice family of my own after work. All of the regrets and mistakes but they are just memories made, history in the making. I miss my tea, I miss my family. I dont think I remember how it feels like to fall in love and will I ever be in love again. We age, and soon we all die, and bono sings in the back ground... I still haven't found what I’m looking for...
 ***

Besok
……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… hanya Tuhan yang tau.

Saturday, September 24, 2011

Surat yang tak pernah kukirim


Jeritan hati tanpa suara.
Hentakan bunyi dan kata kehilangan kuasa

Barisan emosi melebur menjadi memori.
Mengalir dalam nadi tersimpan didiri

Begitu banyak lembaran yang ingin kubagi.
Tapi rahasia ini … lebih baik kubawa mati

Cinta yang sama



Cinta tak mengenal kasta
Tapi cinta ini kau pandang hina

Bukannya aku menentang tuhan
Bukan pula salah asuhan

Dihatiku dihatimu, cinta yang sama
Ini hanya cinta, kalian takut apa?

Friday, September 24, 2010

Cerita cinta



Lelaki itu duduk pada sebuah café yang menyajikan makanan dengan harga fantastis, sosok typical anak kuliah dengan kaos putih dan jeans lusuh membelakangi taman yang teduh. Sudah kesekian kali lelaki itu memeriksa jam pada handphonenya dengan perasaan gelisah lalu kembali merebahkan punggungnya pada kursi anyaman rotan.
Sedangkan diatas, Langit baru saja cerah kembali setelah beberapa saat diguyur hujan yang menyisakan aspal basah dan pepohonan yang menghijau disore hari.


Dia membuka menu saat pesanan saya datang; secangkir kopi dan sepiring spaghetti tuna yang hadir dengan margarine dan bawang putih yang berlebihan, kami saling bertukar senyum dan menyapa cuaca yang sangat indah saat langit menyisihkan semua awan dan menghadirkan biru abadi serta aroma rumput basah yang menggelitik. Tapi dia tidak tersenyum untuk itu, lelaki itu tersenyum karena cinta. Menunggu sang terkasih dengan tubuh yang letih setelah melewatkan segala rutinitas yang melelahkan, membiarkan menit demi menit berlalu dan menghiraukan segala rasa cemburu yang hadir tanpa arti.


Cinta,
Telah ribuan kali saya bertanya; apa itu cinta?
Saya tidak dapat menemukan jawabannya tapi saya telah melihat indahnya.


Sebuah email dari Portugal pernah mampir di inbox saya dan menanyakan;

“saya tidak dapat lagi mengeluarkan air mata, apakah saya telah kehilangan rasa untuk mencinta saat sang terkasih lemah tanpa daya?”


saya pun bertanya dalam hati; pernahkah saya mencinta seseorang sedemikian dahsyat?
dapatkah kita kehilangan rasa untuk mencinta? Saya saja tidak dapat menjelaskan apa itu cinta… bukankah cinta slalu ada didalam jiwa, tapi bagaimanakah bentuknya?
Apakah cinta seperti udara yang kita hembus lalu masuk memenuhi paru-paru, dan udara yang sama membelai wajah seorang pecinta… cinta ada didalam dirimu, didalam diriku dan cinta ada dimana-mana. Cinta yang sama yang ada dirimu wahai lelaki yang memesan sebotol teh lalu berucap ‘saya masih menunggu pacar saya’ kepada pelayan.


Cinta mengikat dua hati; seperti tertulis pada beberapa buku yang setelah saya baca menjadi terkesan mengerikan. Cinta seakan menjadi sebuah rantai yang membelenggu dan menggiring kita pada lorong panjang yang penuh pengorbanan (supernova; dee) yang hadir dalam bentuk teralis baja memenjarakan hati dengan vonis setia sampai mati.
Benarkah demikian?
Bukankah kalimat ini terlalu berlebihan,
Saya selalu terbuai melayang saat mendengar teman berkata “suami saya berkata…” “pacar saya menelpon…” blah blah blah dan berbagai kalimat yang mengartikan bahwa diri ini milik seseorang, bukan lagi dua jiwa melainkan satu walau tubuh itu terpisah tapi jantungnya berdenyut dengan nafas yang sama… bukankah cinta itu indah?
Dua sosok yang lahir dari benua yang berbeda dan bersatu atas nama cinta, berbagi rahasia termasuk panu di punggung hingga mimpi indah masa depan, menghabiskan waktu bersama seiring rambut yang memutih hingga maut memisahkan.


Dalam perjalanan pulang saya kembali merenung (baca; melamun di dalam bis sambil senyum-senyum sendiri lalu orang-orang sekitar berpikir kalo saya gila) tentang kisah asmara saya yang tak pantas untuk disebut kisah asmara;
Hanya segelintir wajah yang pernah bertengger di hati saya namun rasa itu sangatlah biasa bila dibandingkan dengan rasa cinta teman-teman yang lain terhadap kekasih mereka yang rela menelpon berjam-jam atau bahkan menanyakan perihal makan siang, disatu sisi saya menanyakan seberapa pentingnya mengetahui menu makan siang seseorang, dengan ayam gorengkah atau sambal pete? Akan hambarkah rasa cinta di hati dengan segala kejenuhan yang penuh dengan obrolan statis?


dan juga sebuah bentuk rasa perhatian yang lain; seorang teman sempat memamerkan arjunanya kepada saya, all she has to do is call dan sang arjuna akan siap antar jemput kemanapun sang dewi inginkan… disebuah warung bakso mereka duduk disudut, sang arjuna melahap terigu rasa sapi berbentuk bola sedangkan sang dewi menyeka keringatnya. Maukah sang arjuna mengantarkan sang dewi ke ujung dunia dan melahap ambrosia diatas pelangi? Hal ini lah yang membuat saya takjub; rasa cinta seseorang yang demikian besar terhadap kekasihnya hinga rela, … bukan, bukan rela, bukan keikhlasan, ataupun keharusan, melainkan sebuah keinginan untuk bersama, sebuah rasa untuk melindungi, sebuah _______. Saya belum mampu menjabarkannya, rasa itu sungguh indah saya rasakan.


Kembali, pada sebuah warung bakso tempat seorang homo yang duduk didepan tv berukuran mini sambil membelah bakso urat dengan sendok menjadi ukuran-ukuran kecil dan memandang ke mangkok yang penuh kuah berwarna merah tapi dengan tatapan kosong… saya tersenyum sinis walau rasa iri itu tergambar jelas di hati, ingin juga ada seseorang yang menanyakan apakah saya sudah makan atau belum, lalu berbicara panjang lebar di telpon tentang hal-hal yang tidak penting seperti langit yang biru, dan lihatlah sayang… laut juga berwarna biru, dan pembicaraan yang lama itu pun diakhiri dengan debat; “kamu dong yang tutup duluan… nggak ah, kamu aja… kamu dong… kamuuuu…. Nggak sayang, kamu yang tutup duluan…” dan ibu pun menjadi executor yang merebut gagang telpon dan membantingnya namun kita masih tersenyum penuh cinta walau tidak sempat memberikan kecupan mesra via udara dan rasa hangat di dada tetap membara walau diselingi omelan ibu akan membengkaknya biaya telpon…


Aint love grand?

Copyright of Big Girls Dont Chry
The other me at Big boys dont Chry, Add me on facebook JC
Blogger